Featured Post

Orang Tua Murid SD Kandang Sapi Mengeluhkan Jatah Makan Siang MBG Lauk tidak layak konsumsi, Di SMAN 3 Kota Pasuruan Jatah Makan MBG Sangat Layak Konsumsi, Bukti Tidak Ada Standar Menu MBG

Gambar
Gambar atas, menu makan siang di SD Kandang Sapi hari Rabu (11/2). Gambar bawah, menu makanan di SMAN 3 Kota Pasuruan hari Jumat (13/2). Pasuruan-PaslineNews Sejumlah wali murid TK ABA 2  dan SD Kandang Sapi, serta  SD Bangilan, mengeluhkan makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan pada hari Rabu(11/2/26)  dalam kondisi lauk tidak layak konsumsi dan menu yang tidak jelas.   Menurut salah satu orang tua murid yang enggan ditulis namanya,  setelah melihat jatah  makan siang milik anaknya, lauk berupa ayam suwir dalam kondisi basi.  Bahkan, guru kelas tempat anaknya sekolah melarang muridnya memakan lauk tersebut.  Hal yang sama juga terjadi di SD Bangilan.  Salah satu orang tua murid yang enggan menyebut namanya, menyesalkan menu yang diterima anaknya. Dia menilai, jatah makan siang MBG  hari Rabu (11/2) dinilai sangat sederhana, terdiri dari nasi, sepotong tempe goreng, irisan  sayur kobis dan wortel ditambah daging ayam suwir...

Refleksi Tahun 2025, Kinerja Pemerintah Tanpa Gebrakan Inovasi

Suasana diskusi panel. (Foto:Bowo)


Pasuruan-PaslineNews

Kinerja Walikota Pasuruan Adi Wibowo dan Wakil Walikota Pasuruan  M.Nawawi selama 100 hari masa kerjanya hingga tutup tahun 2025 menjadi perhatian masyarakat Kota Pasuruan. Selama ini masyarakat merasakan kinerja dan kebijakan pemerintah masih data-datar saja belum ada gebrakan inovasi  yang berarti untuk membangun Kota Pasuruan. 


Hal itu terungkap dalam diskusi panel bertema 'Refleksi Tahun 2025: Tata Kelola Kinerja 100 Hari Pemerintah Kota Pasuruan' yang digelar di sebuah resto di Kota Pasuruan, Sabtu (3/1/26) malam. Diskusi ini dihadiri oleh masyarakat dari berbagai latar belakang dan membahas kinerja Wali Kota Adi Wibowo dan Wakil Kota Pasuruan M Nawawi dalam 100 hari pertama pemerintahan.


Dipandu oleh Doktor Mashuri , SH M.Hum., seorang akademisi dari Universitas Merdeka Pasuruan, diskusi tersebut membedah kebijakan dan kinerja pemerintah dari beberapa aspek atau bidang  yang menjadi misi visi Adi Wibowo dan M. Nawawi tahun anggaran 2025 seperti bidang perdagangan, pertanian, kebudayaan, pariwisata, hukum, pendidikan  dan politik, serta bidang lainnya.


Salah satu peserta diskusi, Salawi Ilyas, seorang tokoh masyarakat pesisir mengatakan, misi visi pemerintah tahun 2025 sangat minim menyinggung pembangunan  pesisir yang notabene masyarakat nelayan.  Saat ini nelayan kesulitan belanja bahan bakar minyak karena  infrastruktur bahan bakar minyak atau SPBU untuk nelayan belum ada. 


"Masyarakat pesisir juga meminta pemerintah agar mendorong pembangunan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) milik provinsi untuk segera dituntaskan dan diaktifkan. Sebab keberadaan TPI akan berimbas positif terhadap keberlangsungan nelayan Kota Pasuruan," ujar Salawi Ilyas.


Diskusi tersebut diwarnai kritik tajam yang datang dari Abdul Rochman, praktisi pendidikan. Menurut dia,  secara umum misi visi pemerintah tidak jelas, masih belum terlihat tanda-tanda perubahan yang signifikan.   Di dunia pendidikan misalnya, pemerintah membuat program unggulan pendidikan yang disebut PRIME singkatan dari Pasuruan Integrated Management Education. Program ini diluncurkan pada Oktober 2025 oleh Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, sebagai upaya untuk memperkuat mutu pendidikan dan menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. 


"Sayangnya, sampai saat ini turunan programnya belum jelas. Model turunannya apa. Memang, cita citanya bagus, melalui program ini, Pemerintah Kota Pasuruan berkomitmen untuk menciptakan pendidikan yang seimbang antara pengetahuan akademis dan nilai-nilai lokal, serta memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari akses pendidikan inklusif. Karena keinginannya menyeimbangkan nilai akademik , spiritual dan emosional, takutnya program ini hanya menjadi wacana saja  sebab, sangat sulit mewujudkannya. Sejauh ini aya melihat belum ada harmonisasi di dunia pendidikan, dari sisi administrasi dan komunikasi belum menemukan formulasi yang baik, bahkan tidak harmonis antara pemerintah dengan lembaga pendidikan madrasah dan swasta. Mestinya  harus kita bangun bingkainya baru semuanya bisa terwujud," ucap Abdul Rochman. 


Satu demi satu berbagai permasalahan dikupas, bermacam usulan dan solusi dilontarkan. Diskusi semakin gayeng disaat bicara soal pelayanan publik, seperti pelayanan air minum PDAM. Buruknya pelayanan PDAM mendapat sorotan dari H. Ansori. Menurutnya, manajemen di PDAM perlu diperbaiki total. Sebab, menangani masalah klasik yaitu kebocoran air saja tidak mampu. Oleh sebab itu, dia meminta pemerintah dalam menentukan seorang direktur syaratnya tidak hanya memiliki Sertifikat  Manajemen Air  Minum tapi juga punya kemampuan entrepreneur. Menurutnya, tanpa kemampuan entrepreneur perusahaan milik daerah ini tidak akan mampu memberikan sumbangan pendapatan daerah.  


"Kemampuan entrepreneur bagi seorang pimpinan perusahaan akan mendukung kemampuan tehnik dan teknis manajemen pelayanan air minum yang berbanding lurus dengan profitabilitas PDAM," jlentreh H. Ansori.


Dalam diskusi tersebut juga diungkap program pemerintah  yang dinilai hanya jalan di tempat yaitu  program Pasuruan Kota  industri, Perdagangan, Jasa  dan Wisata. Program ini hanya melanjutkan program walikota sebelumnya, namun belum nampak terobosan dan inovasinya. Hal itu diucapkan oleh Eko praktisi mebel. Menurutnya, di Kota Pasuruan sudah ada kawasan industri mebel. Mestinya kawasan itu harus  dibangun lebih baik lagi. 


"Untuk mendukung program itu, pemerintah harus membangun sekolah kejuruan mebel untuk memenuhi sumber daya manusianya. Untuk output produknya pemerintah harus memfasilitasi dengan mendirikan showroom serta  ikut aktif  dalam pameran-pameran yang kelasnya nasional bahkan internasional," kata Eko.


Banyaknya masukan berupa kritikan, saran, ide dan gagasan, dalam diskusi tersebut  oleh  Doktor Mashuri , SH M.Hum., secara garis besar disimpulkan  bahwa  kurangnya eksekutorial dalam misi visi pemerintah.  Padahal kalau secara aturan undang-undang, ada disentralisasi  namun yang terjadi rekonsentrasi. Apakah desentralisasi atau pelimpahan kewenangan pusat ke daerah sudah terjadi? Jawabannya belum. 


"Dalam membuat kebijakan, pemerintah tidak bisa sendiri,  harus ada instrumen hukum yangi dibuat legislatif sebagai payung hukumnya.  Payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) usulan pemerintah atau inisiasi dewan, di situlah akan terjadi tawar -menawar, di sinilah masalahnya.  Terkait usulan pembangunan dari masyarakat,  mestinya usulan Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan)  harus segera dieksekusi tapi pemerintah masih belum bisa melakukan itu," urai Mashuri.


Koordinator acara  H.Nuchan dalam kesempatan tersebut mengatakan, bahwa saran pendapat yang bisa disimpulkan malam ini menjadi jalan keluar berbagai masalah yang dihadapi  pemerintah Kota Pasuruan,. Dan menjadi sumbangsih  ikut  memberikan kontribusi pemikiran, konsep ataupun  memunculkan ide kreatif untuk membangun kota ini kedepan. Yang penting persatuan dan kebersamaan tetap harus dijaga.


"Tujuan diskusi ini untuk menggali potensi kearifan lokal kota Pasuruan. Acara ini diprakarsai oleh organisasi masyarakat  Suropati Kutho dan sudah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan yang sama. Hasil diskusi ini akan kami rekomendasikan kepada pemerintah dan juga akan kita bawa ke DPRD Kota Pasuruan melakukan hearing dengan OPD (Organisasi Perangkat Daerah)," pungkas H. Nuchan.


Reporter: Prabowo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SPPG Yayasan Cinta Nusantara Persada Diresmikan Walikota Pasuruan H. Adi Wibowo

Pemerintah Kota Pasuruan Cairkan Dana Bantuan Keuangan Partai Politik.

Nama-nama Calon Ketua DPC PDIP Kota Pasuruan Murni Usulan Dari Bawah, dr.Mufti Anam Tidak Mau Diusulkan