Featured Post

Orang Tua Murid SD Kandang Sapi Mengeluhkan Jatah Makan Siang MBG Lauk tidak layak konsumsi, Di SMAN 3 Kota Pasuruan Jatah Makan MBG Sangat Layak Konsumsi, Bukti Tidak Ada Standar Menu MBG

Gambar
Gambar atas, menu makan siang di SD Kandang Sapi hari Rabu (11/2). Gambar bawah, menu makanan di SMAN 3 Kota Pasuruan hari Jumat (13/2). Pasuruan-PaslineNews Sejumlah wali murid TK ABA 2  dan SD Kandang Sapi, serta  SD Bangilan, mengeluhkan makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan pada hari Rabu(11/2/26)  dalam kondisi lauk tidak layak konsumsi dan menu yang tidak jelas.   Menurut salah satu orang tua murid yang enggan ditulis namanya,  setelah melihat jatah  makan siang milik anaknya, lauk berupa ayam suwir dalam kondisi basi.  Bahkan, guru kelas tempat anaknya sekolah melarang muridnya memakan lauk tersebut.  Hal yang sama juga terjadi di SD Bangilan.  Salah satu orang tua murid yang enggan menyebut namanya, menyesalkan menu yang diterima anaknya. Dia menilai, jatah makan siang MBG  hari Rabu (11/2) dinilai sangat sederhana, terdiri dari nasi, sepotong tempe goreng, irisan  sayur kobis dan wortel ditambah daging ayam suwir...

Suku Jawa Keturunan Nabi Ibrahim ? Oleh : Cak Bowo

Tradisi Marjakani atau Entas-Entas atau sunat masyarakat Tengger


Pasuruan-PaslineNews.

Mungkin orang Jawa pada umumnya tidak menyadari bahwa  ada bukti-bukti kuat yang menegaskan bahwa orang Jawa atau Suku Jawa adalah keturunan Nabi Ibrahim. Bukti-bukti tersebut berupa tulisan sejarah, kitab suci, tradisi atau budaya, serta kepercayaan masyarakat Jawa.


Menurut kitab /buku yang ditulis beberapa sejarawan dan ulama Islam, garis keturunan bangsa Jawa/Jawi berasal dari pernikahan Nabi Ibrahim dengan istri ketiganya yang bernama Qanturah/Ketura. Para sejarawan dan para ulama menyepakati bahwa istri ketiga nabi Ibrahim adalah Qanturah, hal ini dapat dilihat didalam beberapa buku dan kitab, seperti yang telah ditulis oleh Abuya Hamka di dalam  tafsir Al-Azhar-nya (2015), halaman 263. Kemudian ditulis oleh Maulana Muhammad Ali dalam Tafsirnya : Al-Qur’an Terjemahan dan Tafsir (2015), halaman 233. Kemudian oleh Ahmad Suhelmi, dalam bukunya : Salib di Bulan Sabil (2007), halaman 229, dan beberapa riwayat lainnya. Kesimpulannya, bahwa keberadaan Qanturah sebagai istri Nabi Ibrahim selain Dewi Hajar dan Sarah adalah fakta sejarah.


Cerita tersebut juga ada tertulis dalam kitab Taurat versi Injil Kristiani di bab kejadian yamg menyebutkan bahwa Ibrahim memiliki tiga istri yakni Sara, Hajar, dan Ketura (Kenthura/Kethura). Dari istri Ketura ini  Ibrahim memiliki 6 orang anak yang kemudian keturunannya banyak menyebar atau bermigrasi ke arah timur, termasuk ke Jawa ( Nusantara ). Bahkan suku Melayu di Malaysia sangat meyakini bahwa ras Melayu merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari istri Kentura.


Berikut silsilah keturunan Nabi Ibrahim dari istri Ketura yang tertulis di perjanjian lama (Taurat) kitab Injil di bab kejadian, 25 ayat 2-4. Teks: 25:2  Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, (f)  Yoksan, Medan, Midian, (g)  Isybak dan Suah. (h)  25:3 Yoksan memperanakkan Syeba ( i)  dan Dedan. (j ) Keturunan Dedan ialah orang Asyur, orang Letush dan orang Leum. 25:4 Anak-anak Midian ialah Efa, (k)  Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan Ketura.


Selain bukti sejarah, bukti lain bahwa Ibrahim bapak suku Jawa, bisa dilihat dari tradisi atau budaya  masyarakat Jawa,  tentang ajaran ketuhanan dan tradisi kehidupan  orang Jawa. Ditilik dari ajaran agama  Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim mengajarkan konsep ketuhanan monotheis atau Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut sejalan dengan konsep  ketuhanan orang Jawa kuno yang mempercayai Tuhan yang satu (monotheis) melalui jalan menggali dari dalam dirinya sendiri dan alam yang disebut Kapitayan. 


Memang, ajaran Kapitayan masyarakat Jawa tidak pernah diajarkan di sekolah. Yang diajarkan  selama ini adalah sejarah  kepercayaan masyarakat Jawa Purba sebelum terjadi migrasi bangsa-bangsa lain ke pulau Jawa atau Nusantara, yakni kepercayaan  animisme dan dinamisme. 


Jawa identik dengan kebaikan. Orang Jawa juga memegang kuat tradisi sopan santun, unggah ungguh, hormat pada orang tua dan orang yang usianya lebih tua, juga orang yang dituakan karena ilmunya (guru). Dan juga menjalani budaya sabar, tawakal, lilo (ikhlas) narimo (menerima dengan besar hati) , dan temen (sungguh-sungguh), dan masih banyak lagi budaya kebajikan masyarakat Jawa. Artinya, Jawa identik dengan kebaikan. Hal tersebut selaras dengan syariat agama wahyu (Samawi) yang di bawa Nabi Ibrahim dan nabi-nabi dari keturunan Nabi Ibrahim.


Bukti berikutnya adalah tradisi sunat masyarakat Jawa. Di dalam kitab suci agama-agama samawi dan literatur sejarah lainnya menyebutkan, bangsa yang bersunat adalah keturunan Ibrahim. Hal ini ditegaskan dalam bab kejadian 17:9-14 kitab Injil perjanjian lama (Taurat).

#Kejadian 17:9-14 (9) Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun temurun; 

(10) Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 

(11) Haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

(12) Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki diantara kamu, turun temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.

(13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.

(14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

Tentang sunat, suku Jawa Tengger (sub suku Jawa) yang beragama Hindu secara turun temurun melaksanakan tradisi sunat yang disebut "Marjakani", ada juga yang menyebutnya "Entas-Entas. Selain sunat, suku Tengger yang menganut agama Hindu meyakini Tuhan yang satu/yang Maha Esa yaitu Sang Yang Widi Wase. Dan juga percaya pada hari kiamat atau hari akhir yang disebut "Mahapralaya". Keadaan mahapralaya adalah ketika dunia ini tersedot atau mengalami kontraksi bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.


Penting diketahui, bahwa ajaran agama Hindu Jawa (Tengger) berbeda dengan Hindu India. Ajaran Hindu Jawa dalam menyembah Tuhannya tidak melalui pemujaan patung, berhala atau sejenisnya. Di dalam tempat peribadatan Hindu Jawa yang disebut Pura hanya hamparan tanah lapang, ada juga yang  beralaskan batu, bata merah, paving, atau keramik. Ditempat suci tersebut dilengkapi dengan tempat menaruh sesaji yang disebut pelangkiran. Tidak ada patung tempat pemujaan di tempat suci tersebut. Patung selamat datang yang berjumlah dua buah hanya berada diluar pura di pintu masuk ke Pura.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SPPG Yayasan Cinta Nusantara Persada Diresmikan Walikota Pasuruan H. Adi Wibowo

Pemerintah Kota Pasuruan Cairkan Dana Bantuan Keuangan Partai Politik.

Nama-nama Calon Ketua DPC PDIP Kota Pasuruan Murni Usulan Dari Bawah, dr.Mufti Anam Tidak Mau Diusulkan