Pasuruan-Pasline
Bulan Syura menurut penanggalan Jawa memiliki nilai kesakralan sendiri bagi masyarakat Jawa. Biasanya digunakan untuk membersihkan atau njamas barang-barang pusaka. Sebagaian orang melaksanakan ritual bersih diri. Tidak sedikit juga kumpulan atau padepokan penghayatan kepercayaan yang sifatnya hanya memperingati tahun baru Jawa.
Bagaimana bisa muncul nama syuro, padahal dalam penanggalan Hijriyah yang digunakan umat Islam, namanya bulan Muharram. Ditilik dari sejarah Islam di tanah Jawa, Ternyata, nama bulan Syuro berasal dari negeri Persia atau Iran. Orang Persi menyebutnya dengan bulan Asyura. Pedagang dan penyebar agama Islam asal Persia inilah yang membawanya ke Nusantara.
Sejarah bulan Syuro di tanah Jawa, muncul dipenanggalan Jawa yang ditetapkan raja Jawa Mataram di jaman Sultan Agung tahun 1043 Hijriyah. Cuplikan sejarah tersebut dipaparkan oleh Romo Bambang Wiyono, guru spritual dari Padepokan Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan (KBTTPK) Kota Pasuruan, dalam acara, Peringatan Malam 10 Syura 1953 Jawa. Dengan tema; Menyembah Suraking Ngaweake Dedunga, di padepokan KBTTPK dusun Temenggungan, Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Sabtu (09/09/19) malam.

Romo Bambang lebih lanjut menerangkan, Raja Mataram saat dipimpin Sultan Agung yang sudah muslim, mengadakan tatanan penanggalan Jawa yang dicocokkan dengan penanggalan hijriah, semula menggunakan patokan matahari, dirubah dengan menggunakan patokan bulan atau komariah. Tatanan baru dimulai tanggal 1 Syura atau 7 Juli 1633 Masehi. Tahun Jawa meneruskan tahun saka. Sedangkan tahun Saka berakhir di jaman Majapahit. "Pada tanggal satu Syuro Sultan Agung menerima petunjuk untuk menata penanggalan jawa menjadi seperti.sekarang ini, "jelas Romo Bambang.
Pada jaman Belanda dan Jepang, penanggalan Jawa mengalami keterpurukan. Dan berjaya lagi saat merdeka. Di tahun Jawa, Syuro merupakan bulan pertama, satu Syuro sebagai tahun baru dan diperingati melalui upacara sesaji suro. Upacara sesaji Syuro Digunakan sebagai penghayatan kepercayaan.
"Dengan peringatan tersebut, supaya kita bisa mengambil hikmah untuk melangkah dengan jalan menghayati dan melaksanakan tindak tanduk disesuaikan dengan peket (buku pedoman) yang di bawa setiap anggota, "pesan Romo Bambang.(B.)