Featured Post

Orang Tua Murid SD Kandang Sapi Mengeluhkan Jatah Makan Siang MBG Lauk tidak layak konsumsi, Di SMAN 3 Kota Pasuruan Jatah Makan MBG Sangat Layak Konsumsi, Bukti Tidak Ada Standar Menu MBG

Gambar
Gambar atas, menu makan siang di SD Kandang Sapi hari Rabu (11/2). Gambar bawah, menu makanan di SMAN 3 Kota Pasuruan hari Jumat (13/2). Pasuruan-PaslineNews Sejumlah wali murid TK ABA 2  dan SD Kandang Sapi, serta  SD Bangilan, mengeluhkan makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan pada hari Rabu(11/2/26)  dalam kondisi lauk tidak layak konsumsi dan menu yang tidak jelas.   Menurut salah satu orang tua murid yang enggan ditulis namanya,  setelah melihat jatah  makan siang milik anaknya, lauk berupa ayam suwir dalam kondisi basi.  Bahkan, guru kelas tempat anaknya sekolah melarang muridnya memakan lauk tersebut.  Hal yang sama juga terjadi di SD Bangilan.  Salah satu orang tua murid yang enggan menyebut namanya, menyesalkan menu yang diterima anaknya. Dia menilai, jatah makan siang MBG  hari Rabu (11/2) dinilai sangat sederhana, terdiri dari nasi, sepotong tempe goreng, irisan  sayur kobis dan wortel ditambah daging ayam suwir...

Padepokan Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Peringati Tahun Baru Jawa 1953 J



Pasuruan-Pasline

Bulan Syura menurut penanggalan Jawa  memiliki nilai kesakralan sendiri bagi masyarakat Jawa. Biasanya digunakan untuk membersihkan atau njamas barang-barang pusaka. Sebagaian orang  melaksanakan ritual bersih diri. Tidak sedikit juga kumpulan atau padepokan penghayatan kepercayaan yang sifatnya hanya memperingati tahun baru Jawa.

Bagaimana bisa muncul nama syuro, padahal dalam penanggalan Hijriyah yang digunakan  umat Islam, namanya bulan Muharram. Ditilik dari sejarah Islam di tanah Jawa, Ternyata, nama bulan Syuro berasal dari negeri Persia atau Iran. Orang Persi menyebutnya dengan bulan Asyura. Pedagang dan penyebar agama Islam asal Persia inilah yang membawanya ke Nusantara.

Sejarah bulan Syuro di tanah Jawa, muncul dipenanggalan Jawa yang ditetapkan raja Jawa Mataram di jaman Sultan Agung tahun 1043 Hijriyah. Cuplikan sejarah tersebut dipaparkan oleh Romo Bambang Wiyono, guru spritual dari Padepokan Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan  (KBTTPK) Kota Pasuruan, dalam acara,  Peringatan Malam 10 Syura 1953 Jawa. Dengan tema;  Menyembah Suraking Ngaweake Dedunga, di padepokan KBTTPK dusun Temenggungan, Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Sabtu (09/09/19) malam.

Romo Bambang lebih lanjut menerangkan, Raja Mataram saat dipimpin Sultan Agung yang sudah muslim, mengadakan tatanan penanggalan Jawa yang dicocokkan dengan penanggalan hijriah, semula menggunakan  patokan matahari, dirubah dengan menggunakan patokan bulan atau komariah. Tatanan baru dimulai tanggal 1 Syura atau 7 Juli 1633 Masehi. Tahun Jawa meneruskan tahun saka. Sedangkan tahun Saka berakhir di jaman Majapahit. "Pada tanggal satu Syuro Sultan Agung menerima petunjuk untuk menata penanggalan jawa menjadi seperti.sekarang ini, "jelas Romo Bambang.

Pada jaman Belanda dan Jepang, penanggalan Jawa mengalami keterpurukan. Dan berjaya lagi saat merdeka. Di tahun Jawa, Syuro merupakan bulan pertama,  satu Syuro sebagai tahun baru dan diperingati melalui upacara sesaji suro. Upacara sesaji Syuro Digunakan sebagai penghayatan kepercayaan.

"Dengan peringatan tersebut, supaya kita bisa mengambil hikmah untuk melangkah dengan jalan menghayati dan melaksanakan tindak tanduk disesuaikan dengan peket (buku pedoman) yang di bawa setiap anggota, "pesan Romo Bambang.(B.)

Postingan populer dari blog ini

SPPG Yayasan Cinta Nusantara Persada Diresmikan Walikota Pasuruan H. Adi Wibowo

Pemerintah Kota Pasuruan Cairkan Dana Bantuan Keuangan Partai Politik.

Nama-nama Calon Ketua DPC PDIP Kota Pasuruan Murni Usulan Dari Bawah, dr.Mufti Anam Tidak Mau Diusulkan